Efek Jangka Panjang Ganja, Benarkah dapat Merubah Struktur dan Fungsi Otak ?



Efek Jangka Panjang Ganja, Benarkah dapat Merubah Struktur dan Fungsi Otak ?

Berdasarkan penelitian terbaru di Center for Brain Health, The University of Texas, Dallas, USA, peneliti menemukan bahwa efek dari penggunaan jangka panjang ganja sangat dipengaruhi oleh usia pertama kali menggunakan dan lamanya pemakaian ganja. Secara umum, pengguna jangka panjang yang dimaksud adalah subjek yang mengonsumsi tiga batang ganja setiap hari dan telah menggunakan ganja antara enam sampai delapan tahun.

cortex-orbitofrontal
Pertama kali dalam sejarah ilmu kedokteran modern, peneliti berhasil menggambarkan secara komprehensif abnormalitas pada fungsi dan struktur otak pengguna berat ganja. Lebih jauh lagi, mereka menemukan bahwa pengguna berat ganja memiliki volume orbitofrontal cortex (OFG) yang lebih kecil namun dengan konektivitas yang tinggi. OFG adalah bagian otak yang terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Penelitian ini juga menemukan bahwa pengguna berat ganja memiliki IQ yang lebih rendah dibanding kelompok kontrol namun perlu digarisbawahi bahwa rendahnya IQ tidak berkaitan dengan menyusutnya volume OFG.

Secara umum peneliti melihat peningkatan konektivitas pada fungsi dan struktur OFG sebagai penyeimbang akibat penyusutan volume OFG. Namun lebih jauh lagi, peneliti menemukan bahwa konektivitas tersebut akan mengalami penurunan seiring dengan makin lamanya intensitas pemakaian ganja. Apabila dibandingkan dengan non-pengguna ganja, sambungan-sambungan elektris pada struktur OFG pengguna jangka panjang ganja tetap lebih baik. Hal tersebut dipercaya para peneliti sebagai alasan mengapa pengguna jangka panjang ganja “tetap merasa ok”.

“Sekarang, keterbatasan metodologi membuat penelitian mengenai efek jangka panjang pengunaan ganja sulit dilaksanakan. Walaupun penelitian kami tidak menunjukan hubungan sebab-akibat antara perubahan struktur otak dengan penggunaan ganja, kami tetap menemukan bahwa perubahan struktur maupun fungsi tersebut berkaitan dengan usia awal dan lamanya waktu pemakaian ganja”, ujar Dr. Francesca Filbey, Direktur the Cognitive Neuroscience Research di Center for Brain Health, The University of Texas, Dallas, USA. “Bagaimanapun, jarang sekali kita menemukan penelitian mengenai efek jangka panjang ganja. Padahal gaung legalisasi maupun diskusi seputar isu kesehatan masyarakat terkait ganja sedang hangat-hangatnya,” tutup beliau.

Sumber :
legalisasiganja,com
sciencedaily.com

Previous
Next Post »